Sabtu, 17 September 2016

Profile Obon Tabroni

JSMI Kab Bekasi, Berikut ini adalah nama-nama pasangan calon bupati dan calon wakil bupati kab Bekasi Pilkada 2017 :
----------------------------------------

  • Obon Tabroni
  • Bambang Sumaryono
  • Meiliana Kartika Kadir
  • Abdul Kholik
  • Neneng Hasanah Yasin
  • Eka Supria Atmaja
  • Sa’duddin
  • Ahmad Dhani
  • Iin Farikhin
  • KH. Mahmudin
  • ----------------------------------------

    Profile Obon Tabroni

    Kakek saya seorang guru. Sebelum menjadi guru, kakek merupakan anggota Hizbullah – Sabilillah.

    Dia ikut bergerilya di Jawa Barat. Pasukan ini dibawah pimpinan KH. Noer Alie yang saat itu menjadi Komandan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang.

    Setelah perang usai, barulah kakek diminta mengajar. “Puisi Karawang – Bekasi yang ditulis Chairil Anwar itu terispirasi dari kepahlawanan KH. Noer Alie,” kalimat ini mengawali cerita kakek yang panjang mengenai kepahlawanan KH. Noer Ali.

    Tokoh yang menjadi pemimpinnya saat masih berjuang di zaman kemerdekaan. Menurut kakek, dua tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya, Belanda melakukan Agresi Militer. Saat itu tahun 1947. KH Noer Alie dan pasukannya bangkit mengobarkan semangat perlawanan.

    Ia bergerilya di Jawa Barat memimpin pasukan Komandan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah Jakarta Raya . Satu ketika, KH Noer Alie memimpin pasukannya melakukan perang urat syaraf dengan memasang ribuan bendera Indonesia yang terbuat dari kertas kecil di pepohonan dan rumah penduduk.

    Tentara Belanda marah besar. Karena tak berhasil menemukan pemimpin pasukan, tentara penjajah Belanda marah dan membantai warga sekitar Rawa Gede. Pembantaian itu merusak citra Belanda karena telah membantai rakyat yang tak berdosa.

    Aksi biadab Belanda itu dikenal dalam laporan De Exceseen Nota. Meskipun Nota Ekses itu baru dikeluarkan 20 tahun setelah peristiwa Rawagede, akan tetapi pada bulan Januari 1948 Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah berkesimpulan aksi militer di Rawagede disengaja dan tanpa belas kasihan dan diyakini sebagai tindakan kriminal paling kejam, paling brutal, dan paling berdarah yang dilakukan Belanda dalam kurun waktu 1945 sampai 1949.

    Beberapa tahun kemudian, di tahun 2011 saya mendengar kabar jika Pengadilan Den Haag mengabulkan tuntutan dari keluarga korban kejahatan perang di Desa Rawagede, Jawa Barat. Kerajaan Belanda diharuskan membayar kerugian bagi sekitar 400 keluarga korban yang dibantai dalam peristiwa berdarah tersebut.

    Dikabulkannya tuntutan itu menautkan kembali kisah yang pernah diceritakan kakek saya, saat melintasi Tugu Proklamasi dengan sepeda tuanya. Ketika hari ini mengenang kembali cerita kakek semasa menjadi anggota Hizbullah, itu menjadi semacam refleksi bagi disi saya. Saya bisa merasakan lebih dekat setiap denyut kehidupan yang ada di Bekasi.

    Tempat dimana saya lahir dan dibesarkan. Tidak hanya kakek, Ibu saya juga seorang guru. Bapak dan paman-paman saya juga guru. Sehingga boleh dikata, saya lahir dan dibesarkan dari keluarga yang sangat menyadari arti pentingnya pendidikan.

    Keluarga yang percaya, ilmu adalah pintu gerbang untuk kehidupan yang lebih baik. Bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban yang harus ditunaikan sejak lahir hingga akhir hayat. Meskipun terlahir dari keluarga guru, saya tidak tertarik menjalani profesi sebagai guru.

    Bahkan, ketika orang tua meminta agar saya melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG), saya menolak. Saya memiliki gambaran tersendiri tentang masa depan. Bukan sekedar mengikuti keinginan orang lain, meskipun itu adalah orang tua saya sendiri.

    (*) ==========
    Catatan: Tulisan yang dikategorikan sebagai “Biografi Obon Tabroni” ini merupakan kisah hidup Obon Tabroni. Dan tidak hanya kisah kehidupan dari sosok yang kini mendapat dukungan banyak pihak sebagai sebagai Bupati Bekasi melalui jalur independen, tulisan ini juga berisi gagasan dan pandangannya terkait dengan beberapa peristiwa penting.

    Diterbitkan secara bersambung setiap hari, rubrik biografi ini menjadi bacaan inspiratif untuk menemani pagi hari Anda. Biografi Obon Tabroni ditulis dengan bahasa ringan oleh penulis yang telah menerbitkan lebih dari 15 judul buku, Kahar S. Cahyono. (sobatobon.com)

    Baca juga profile berikut ini :

    1. Obon Tabroni
    2. Bambang Sumaryono
    3. Meiliana Kartika Kadir
    4. Abdul Kholik
    5. Neneng Hasanah Yasin
    6. Eka Supria Atmaja
    7. Sa’duddin
    8. Ahmad Dhani
    9. Iin Farikhin
    10. KH. Mahmudin
    -------------------------------------
    JSMI
    Jaringan Survei Monitoring Independen
    1. Survei Pemilu Dengan Daya Jangkau Kapasitas 200 atau lebih Responden tiap TPS
    2. Pendampingan Pemenangan dengan jaringan kerja rapi & tertata hingga ke level terbawah (TPS)
    Menggunakan Jasa JSMI, Hubungi sekarang : 
    Sunaryo Saripudin S.Pd., (08 777 920 5554)

    1 komentar:

    1. Profil isinya begini... lahir kapan , pendidikan organisasi pekerjaan karir...,

      BalasHapus